Baca artikel Popbela lainnya di IDN App
Install

15 Puisi Tentang Alam yang Penuh Makna dan Menyentuh Hati

15 Puisi Tentang Alam yang Penuh Makna dan Menyentuh Hati
pexels.com/David Besh
  • Artikel ini menampilkan 15 puisi bertema alam karya penyair ternama Indonesia seperti Sapardi Djoko Damono, Chairil Anwar, dan Taufiq Ismail.
  • Setiap puisi menggambarkan keindahan alam sekaligus menyiratkan pesan mendalam tentang kehidupan, cinta, dan hubungan manusia dengan lingkungan.
  • Tulisan ini mengajak pembaca untuk menikmati keindahan bahasa serta merenungi makna yang tersembunyi di balik setiap bait puisi tentang alam.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article
  1. 1. Akulah Si Telaga karya Sapardi Djoko Damono

    pexels.com/Lukáš Sitta
    pexels.com/Lukáš Sitta

    Akulah si telaga, berlayarlah di atasnya
    Berlayarlah menyibakkan riak-riak kecil yang
    Menggerakkan bunga-bunga padma
    Berlayarlah sambil memandang harumnya cahaya
    Sesampai di seberang sana, tinggalkan begitu saja
    Perahumu biar aku yang menjaganya.

  2. 2. Hutan Karet karya Joko Pinurbo

    pexels.com/Johannes Plenio
    pexels.com/Johannes Plenio

    Daun-daun karet berserakan
    Berserakan di hamparan waktu

    Suara monyet di dahan-dahan
    Suara kalong menghalau petang

    Di pucuk-pucuk ilalang belalang berloncatan
    Berloncatan di semak-semak rindu

    Dan sebuah jalan melingkar-lingkar
    Membelit kenangan terjal

    Sesaat sebelum surya berlalu
    masih kudengar suara bedug bertalu-talu

  3. 3. Pantun Terang Bulan di Midwest karya Taufiq Ismail

    pexels.com/David Besh
    pexels.com/David Besh

    Sebuah bulan sempurna
    Bersinar agak merah
    Lingkarannya di sana
    Awan menggaris bawah

    Sungai Mississippi
    Lebar dan keruh
    Bunyi-bunyi sepi
    Amat gemuruh

    Ladang-ladang jagung
    Rawa-rawa dukana
    Serangga mendengung
    Sampaikah suara

    Cuaca musim gugur
    Bukit membisu
    Asap yang hancur
    Biru abu-abu

    Danau yang di sana
    Seribu burung belibis
    Lereng pohon pina
    Angin pun gerimis

  4. 4. Derai-Derai Cemara karya Chairil Anwar

    pexels.com/Brett Sayles
    pexels.com/Brett Sayles

    Cemara menderai sampai jauh
    Terasa hari akan jadi malam
    Ada beberapa dahan di tingkap merapuh
    Dipukul angin yang terpendam

    Aku sekarang orangnya bisa tahan
    Sudah berapa waktu bukan kanak lagi
    Tapi dulu memang ada suatu bahan
    Yang bukan dasar perhitungan kini

    Hidup hanya menunda kekalahan
    Tambah terasing dari cinta sekolah rendah
    Dan tahu, ada yang tetap tidak diucapkan
    Sebelum pada akhirnya kita menyerah

  5. 5. Biru Bukit, Bukit Kelu karya Taufiq Ismail

    pexels.com/Krivec Ales
    pexels.com/Krivec Ales

    Adalah hujan dalam kabut yang ungu
    Turun sepanjang gunung dan bukit biru
    Ketika kota cahaya dan dimana bertemu
    Awan putih yang menghinggapi cemaraku

    Adalah kemarau dalam sengangar berdebu
    Turun sepanjang gunung dan bukit kelu
    Ketika kota tak bicara dan terpaku
    Gunung api dan hama di ladang-ladangku

    Lereng-lereng senja
    Pernah menyinar merah kesumba
    Padang ilalang dan bukit membatu
    Tanah airku

  6. 6. Sajak Matahari karya WS. Rendra

    pexels.com/Billel Moula
    pexels.com/Billel Moula

    Matahari bangkit dari sanubariku
    Menyentuh permukaan samodra raya
    Matahari keluar dari mulutku
    Menjadi pelangi di cakrawala

    Wajahmu keluar dari jidatku
    Wahai kamu, wanita miskin!
    Kakimu terbenam di dalam lumpur
    Kamu harapkan beras seperempat gantang
    Dan di tengah sawah tuan tanah menanammu!

    Satu juta lelaki gundul!
    Keluar dari hutan belantara
    Tubuh mereka terbalut lumpur
    Dan kepala mereka berkilatan
    Memantulkan cahaya matahari
    Mata mereka menyala
    Tubuh mereka menjadi bara
    Dan mereka membakar dunia

    Matahari adalah cakra jingga
    Yang dilepas tangan Sang Krishna
    Ia menjadi rahmat dan kutukanmu
    Ya, umat manusia!

  7. 7. Lereng Merapi karya Sitor Situmorang

    pexels.com/mpo atm
    pexels.com/mpo atm

    Ku tahu sudah, sebelum pergi dari sini
    Aku akan rindu balik pada semua ini
    Sunyi yang kutakuti sekarang
    Rona lereng gunung menguap
    Pada cerita cemara berdesir
    Sedu cinta penyair
    Rindu pada elusan mimpi
    Pencipta candi Prambanan
    Mengalun kemari dari dataran ....

    Dan sekarang aku mengerti
    Juga di sunyi gunung
    Jauh dari ombak menggulung
    Dalam hati manusia sendiri
    Ombak lautan rindu
    Semakin nyaring menderu ....

  8. 8. Hujan Bulan Juni karya Sapardi Djoko Damono

    pexels.com/Khoa Võ
    pexels.com/Khoa Võ

    Tak ada yang lebih tabah
    Dari hujan bulan Juni
    Dirahasiakannya rintik rindunya
    Kepada pohon berbunga itu

    Tak ada yang lebih bijak
    Dari hujan bulan Juni
    Dihapuskannya jejak-jejak kakinya
    Yang ragu-ragu di jalan itu

    Tak ada yang lebih arif
    Dari hujan bulan Juni
    Dibiarkannya yang tak terucapkan
    Diserap akar pohon bunga itu

  9. 9. Malam Laut karya Toto Sudarto Bachtiar

    pexels.com/Muffin Creatives
    pexels.com/Muffin Creatives

    Karena laut tak pernah takluk, lautlah aku
    Karena laut tak pernah dusta, lautlah aku
    Terlalu hampir tetapi terlalu sepi
    Tertangkap sekali terlepas kembali

    Ah malam, gumpalan cahaya yang selalu berubah warna
    Beginilahh jika mimpi menimpa harapan banci
    Tak kusangka serupa dara
    Sehabis mencium bias mendera

    Karena laut tak pernah takluk, mereka tak tahu aku di mana
    Karena laut tak pernah dusta, ku tak tahu cintaku di mana
    Terlalu hampir tetapi terlalu sepi
    Tertangkap sekali terlepas kembali

  10. 10. Gunung Lokon karya Acep Zamzam Noor

    pexels.com/Aron Visuals
    pexels.com/Aron Visuals

    Sebuah resonansi
    Digetarkan cahaya pagi
    Ujung dari doa yang murung
    mengendap di keheningan
    Lereng gunung

    Monumen kabut
    Yang menjulang tanpa tiang
    Menjadi gerbang sunyi
    Angin tanpa arah
    Dingin tanpa muasal
    Mengental
    Seperti amsal

    Sebuah vibrasi
    Yang diletupkan lava
    Menepi di akhir mazmur
    Dari udara tercium
    Harum sulfur

    Kaldera waktu
    Yang bergolak tanpa suara
    Menjelma daratan baru
    Kuburan tanpa nisan
    Luka tanpa jejak
    Menguap
    Bersama epitaf

  11. 11. Taman di Tengah Pulau Karang karya Taufik Ismail

    pexels.com/Bob Krustev
    pexels.com/Bob Krustev

    Di tengah Manhattan menjelang musim gugur
    Dalam kepungan rimba baja, pucuknya dalam awan
    Engkau terlalu bersendiri dengan danau kecilmu
    Dan perlahan melepas hijau daunan

    Bebangku panjang dan hitam, lusuh dan retak
    Seorang lelaki tua duduk menyebar
    Remah roti. Sementara itu berkelepak
    Burung-burung merpati

    Di lingir Manhattan bergelegar pengorek karang
    Merpati pun kaget beterbangan
    Suara mekanik dan racun rimba baja
    Menjajarkan pohon-pohon duka

    Musim panas terengah melepas napas
    Pepohonan meratapinya dengan geletar ranting
    Orang tua itu berkemas dan tersaruk pergi
    Badai pun memutar daunan dalam kerucut
    Makin meninggi

  12. 12. Sabana karya Umbu Landu Paranggi

    pexels.com/rizknas
    pexels.com/rizknas

    Memburu fajar
    Yang mengusir bayang-bayangku
    Menghadang senja
    Yang memanggil petualang

    Sabana sunyi
    Di sini hidupku
    Sebuah gitar tua
    Seorang lelaki berkuda

    Sabana tandus
    Mainkan laguku
    Harum napas bunda
    Seorang gembala berpacu

    Lapar dan dahaga
    Kemarau yang kurindu
    Dibakar matahari
    Hela jiwaku risau
    Karena kumau lebih cinta
    Hunjam aku ke bibir cakrawala

  13. 13. Berdiri Aku karya Amir Hamzah

    freepik.com/pikisuperstar
    freepik.com/pikisuperstar

    Berdiri aku di senja senyap
    Camar melayang menepis buih
    Melayah bakau mengurai puncak
    Berjulang datar ubur terkembang

    Angin pulang menyejuk bumi
    Menepuk teluk mengempas emas
    Lari ke gunung memuncak sunyi
    Berayun-ayun di atas alas

    Benang raja mencelup ujung
    Naik marak mengerak corak
    Elang leka sayap tergulung
    Dimabuk warna berarak-arak

    Dalam rupa maha sempurna
    Rindu-sendu mengharu kalbu
    Ingin datang merasa sentosa
    Menyecap hidup bertentu tuju

  14. 14. Manila Bay, Senja karya Acep Zamzam Noor

    pexels.com/Ferdie Balean
    pexels.com/Ferdie Balean

    Kau membawaku pada puncak gelombang
    Dan gelombang membakarku dengan sepinya
    Sebelum gelap turun, masih ku baca sisa topan
    Nafasmu seakan bisikan yang jauh, seakan
    Sekarat langit yang panjang

    Keperihanmu adalah borok bumi yang kekal
    Dan kau menuntunku pada pusat nyerinya
    Sebelum ajal tiba, kupuja eranganmu dengan cinta
    Kepalsuan dan dusta yang sama. Darahku tumpah lagi
    Lautan tetaplah garam yang menyirami luka

  15. 15. Adakah Suara Cemara karya Taufiq Ismail

    pexels.com/eberhard grossgasteiger
    pexels.com/eberhard grossgasteiger

    Adakah suara cemara
    Mendesing menderu padamu
    Adakah melintas sepintas
    Gemersik dedaunan lepas

    Deretan bukit-bukit biru
    Menyeru lagu itu
    Gugusan mega
    Ialah hiasan kencana

    Adakah suara cemara
    Mendesing menderu padamu
    Adakah lautan ladang jagung
    Mengombakkan suara itu.

    Demikian kumpulan puisi tentang alam yang sarat akan makna dan pesan di dalamnya. Para penyair bukan hanya berhasil membuat kata-kata yang indah, tetapi juga berhasil membuat pembaca membayangkan keindahan alam yang digambarkan.

    Di antara puisi di atas, mana yang paling menyentuh untukmu, Bela? 

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More